KH Abdurrahman Wahid adalah Tionghoa pertama yang menjadi Presiden RI. Beliau keturunan Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah pendiri Kesultanan Demak. Raden Patah sendiri nama aslinya adalah Tan Eng Hwa. Tan A Lok dan Tan Eng Hwa ini adalah anak dari puteri Tiongkok yang menjadi selir Raden Brawijaya V. Tan Kim Han menurut hasil penelitian ahli sejarah Perancis Louis-Charles Damais tidak lain adalah Syekh Abdul Qodir Al-Shini yang diketemukan makamnya di Trowulan.

Sumpah Pemuda 1928 terselenggara di rumah Sie Kok Liong, Gedung Kramat 106. Para anggota Jong Java biasa menggunakan rumah ini untuk diskusi politik dan latihan kesenian, mereka menyebut rumah ini Langen Siswo. Selain Liong juga ada Kwee Thiam Hong, Ong Kay Sing, Liauw Tjoan Hok dan Tjio Djin Kwie. Ali Sadikin pada 20 Mei 1973 meresmikan gedung ini sebagai Gedung Sumpah Pemuda.

Tionghoa Pahlawan Nasional TNI AL John Lie meninggal pada 27 Agustus 1988 dengan pangkat terakhir Laksamana Muda (Mayor Jendral) sejak 1966, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Atas segala jasa dan pengabdiannya, beliau dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Soeharto pada 10 Nopember 1995, Bintang Mahaputera Adipradana dan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2009. Jenderal Besar TNI AH. Nasution pada 1988 berkata prestasi Laksamana Muda John Lie “tiada taranya di Angkatan Laut” karena dia adalah panglima armada (TNI AL) pada puncak krisis eksistensi Republik dalam berbagai operasi menumpas kelompok separatis Republik Maluku Selatan, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, dan Perjuangan Rakyat Semesta. Dengan keberaniannya menembus blokade laut tentara Belanda pada masa revolusi era 1945, Mayor John Lie sukses lima belas kali melaksanakan tugas menyelundupkan berbagai komoditas ekspor ke Singapura untuk kepentingan pembiayaan Republik. Uang yang didapat dibelikan senjata, tapi lebih serang secara barter. Persenjataan tersebut kemudian diselundupkan kembali masuk ke wilayah RI melalui Riau, diserahkan kepada bupati Usman Effendi untuk diedarkan lebih lanjut. Pada awal 1950 ketika di Bangkok, beliau dipanggil pulang ke Surabaya oleh KASAL Laksamana TNI R. Soebijakto dan ditugaskan menjadi komandan kapal perang Rajawali, kemudian aktif menumpas pemberontakan RMS (Republik Maluku Selatan) di Maluku dan PRRI/Permesta.

Djiaw Kie Siong adalah pemilik rumah yang dihuni Soekarno – Hatta dalam peristiwa Rengasdengklok. Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Kamis 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok, di rumah Djiaw Kie Siong itu. Naskah teks proklamasi sudah ditulis di rumah itu. Bendera Merah Putih sudah dikibarkan para pejuang Rengasdengklok pada Rabu tanggal 15 Agustus, karena mereka tahu esok harinya Indonesia akan merdeka. Ketika naskah proklamasi akan dibacakan, tiba-tiba pada Kamis sore datanglah Ahmad Subardjo yang kemudian membawa Bung Karno cs berangkat ke Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56.

Liem Koen Hian, Tan Eng Hoa, Oey Tiang Tjoe, Oey Tjong Hauw adalah anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) ketika merumuskan UUD 1945.

Drs Yap Tjwan Bing adalah seorang sarjana Farmasi dan apoteker yang juga dosen dan anggota Dewan Kurator ITB Bandung. Tahun 1945 beliau terpilih menjadi salah satu anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Setelah kemerdekaan, ia bergabung dengan PNI. Namanya diabadikan menjadi salah satu ruas jalan di kota Surakarta menggantikan Jalan Jagalan yang diresmikan oleh Walikota Surakarta H. Ir Joko Widodo pada tanggal 22 Februari 2008.

Salah satu orang yang terlibat langsung dalam penurunan bendera Belanda di Hotel Oranye Surabaya adalah Tony Wen alias Boen Kin To. Sebelum Perang Dunia II, beliau adalah pemain sepak bola terkenal di kesebelasan UMS (Union Makes Strength). Pada masa pendudukan Jepang bekerja sebagai juru bahasa di kantor urusan Hoa Kiao (Kakyo Hanbu), salah satu bagian pusat intelijen Jepang (Sambu Beppan). Setelah Jepang takluk beliau menghilang dari Jakarta dan menetap di Solo memimpin Barisan Pemberontak Tionghoa. Ketika Presiden Soekarno dan para pemimpin lainnya dibuang ke Pulau Bangka, beliaulah yang menyediakan seluruh keperluan para pemimpin tersebut. Pada era 1950an beliau diangkat menjadi anggota Komite Olimpiade Indonesia dan pengurus PSSI. Pada 1952 masuk menjadi anggota PNI dan sejak Agustus 1954 sampai Maret 1956 diangkat menjadi anggota DPR mewakili PNI lalu duduk di Kabinet Interim Demokrasi, dan pada tahun 1955 berada dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo.

Lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh Wage Rudolf Supratman, pertama kali dipublikasikan oleh Koran Tionghoa Sin Po. Lie Eng Hok adalah seorang Perintis Kemerdekaan Indonesia. Beliau salah satu tokoh penting di balik pemberontakan 1926 Banten. Dalam peristiwa itu masa bergerak melakukan perusakan jalan, jembatan, rel kereta api, instalasi listrik, air minum, rumah-rumah, dan kantor milik Pemerintah kolonial Hindia Belanda. Semasa muda Lie aktif sebagai wartawan Surat Kabar Sin Po dan berkawan akrab dengan Wage Rudolf Supratman, dari sahabatnya inilah beliau belajar banyak tentang cita-cita kebangsaan. Lie Eng Hok berperan sebagai kurir kaum pergerakan, lantas beliau ditahan Pemerintah Kolonial Belanda dan dibuang ke Boven Digoel (Tanah Merah), Papua, selama lima tahun (1927-1932). Selama di Boven Digoel Lie menolak bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda dan lebih memilih membuka kios tambal sepatu untuk memenuhi biaya hidupnya. Atas jasa-jasanya pada bangsa dan negara Indonesia, Lie Eng Hok diangkat sebagai Perintis Kemerdekaan RI berdasarkan SK Menteri Sosial RI No. Pol. 111 PK tertanggal 22 Januari 1959. Lie meninggal pada 27 Desember 1961 dan dimakamkan di pemakaman umum di Semarang. Dua puluh lima tahun kemudian, kerangka Lie Eng Hok baru dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang, melalui Surat Pangdam IV Diponegoro No.B/678/X/1986.

Siauw Giok Tjhan adalah menteri negara Urusan Minoritas dalam Kabinet Amir Syarifudin. Pada 1958 beliau mendirikan Universitas Trisakti dengan dibantu sejumlah petinggi Baperki (Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia). Awalnya bernama Universitas Res Publika, oleh Orde Baru diganti menjadi Tri Sakti. Menurut Siauw Giok Tjhan, kecintaaan seseorang terhadap Indonesia tidak bisa diukur dari nama, bahasa dan kebudayaan yang dipertahankannya, melainkan dari perilaku dan kesungguhannya dalam berbakti untuk Indonesia. Konsep ini kemudian diterima oleh Bung Karno pada tahun 1963, yang kemudian secara tegas menyatakan bahwa golongan Tionghoa adalah suku Tionghoa dan orang Tionghoa tidak perlu mengganti namanya ataupun agamanya, atau menjalankan kawin campur (asimilasi) dengan suku non-Tionghoa untuk berbakti kepada Indonesia. Siauw tidak menentang proses asimilasi yang berjalan secara suka-rela dan wajar, yang ditentangnya adalah proses asimilasi paksa untuk menghilangkan identitas sebuah golongan.

Salam Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa, Indonesia.

Sekian.

*) Rangkuman dari berbagai sumber – at Rumah Pacet

View on Path

Advertisements

Postmodern Suatu Kegelisahan

Postmodern Suatu Kegelisahan
Oleh: Eksi Riwu

Pengantar

Postmodern adalah sebuah istilah yang muncul diakhir abad 20–an dan awal abad 21. Istilah ini pertaman-tama berpengaruh pada bidang seni, arsitek, musik, drama, film dll. Namun istilah ini terus berkembang hingga hampir disemua pemikiran manusia

Istilah ini hadir sebagai reaksi penolakan terhadap modernism yang dianggap telah gagal dalam mewujudkan pembebasan demi kesejahteraan manusia. Hal ini dikarenakan, modernism sangat menjunjung tinggi rasionalitas. Dimana rasio, logika dan standar ilmiah menjadi tolak ukur kebenaran. Sedangkan kaum postmodern sangat menekankan emosi

Kaum postmodernisme menghargai perbedaan-perbedaan dengan menegakan semangat pluralisme. Akibatnya Kemutlakan berubah menjadi kemajemukan, universal menjadi pluralisme 

Pergeseran ini membawa pada pemahaman tentang kebenaran. Dimana tidak diakui kebenaran secara tunggal dan berlaku universal. Kaum postmodern menekankan pluralisme dan realitifisme. Setiap kelompok memiliki kebenarannya. Kepercayaan yang dianggap benar hanya dalam konteks komunitas yang meyakininya. Slogannya, ,”apa yang benar untuk kami, mungkin saja salah bagi anda,” dan “apa yang salah bagi kami, mungkin saja benar atau cocok dalam konteks anda.” 
Postmodern ?

Kata postmodern berasal dari kata “modern” yang berarti masa kini, terbaru, barusan, mutahir, dan “post” artinya sesudah, pasca. Dengan demikian “postmodern” mengandung makna telah berakhirnya modern.

Istilah postmodern, pertma-tama diperkenalkan oleh Frederico de Onis pada tahun 1930-an dalam karyanya Antologia de la Poesia Espanola a Hispanoamericana, untuk menunjukan reaksi yang muncul dari dalam modernism. Kemudian dibidang Historiograsi, oleh Arnold Toynbee dalam bukunya study of histori (1974). Menurutnya sebuah era sejarah baru telah dimulai. Era postmodern ditandai dengan berakhirnya dominasi Barat dan semakin merosotnya individualisme, kapitalisme, dan Kekristenan. Ia mengatakan bahwa transisi ini terjadi ketika peradaban Barat bergeser ke arah irasionalitas dan relativisme. Ketika hal ini terjadi, kekuasaan berpindah dari kebudayaan Barat ke kebudayaan non- Barat dan muncullah kebudayaan dunia pluralis yang baru 

Istilah postmodern sangat membingungkan, sebab postmodern menolah bentuk tunggal, menolak kemapanan akibatnya sulit untuk didefinisikan. Dan ketidakpastian yang membingungkan, itulah postmodern. Tetapi lebih dari itu, para ahli postmodern dalam perdebatannya berakhir pada satu titik kesepakan dimana fenomena ini menandai berakhirnya sebuah cara pandang universal

Ciri-ciri postmodern

Menurut Akbar S. Ahmed terdapat delapan karakter sosiologis postmodernisme yang menonjol, yaitu :
1. timbulnya pemberontakan secara kritis terhadap proyek modernitas; memudarnya kepercayaan pada agama yang bersifat transenden (meta-narasi); dan diterimanya pandangan pluralisme relativisme kebenaran.
2. meledaknya industri media massa, sehingga ia bagaikan perpanjangan dari sistem indera, organ dan saraf kita, yang pada urutannya menjadikan dunia menjadi terasa kecil. Lebih dari itu, kekuatan media massa telah menjelma bagaikan agama atau tuhan sekuler, dalam artian perilaku orang tidak lagi ditentukan oleh agama-agama tradisional, tetapi tanpa disadari telah diatur oleh media massa, semisal program televisi.
3. munculnya radikalisme etnis dan keagamaan. Fenomena ini muncul diduga sebagai reaksi atau alternatif ketika orang semakin meragukan terhadap kebenaran sains, teknologi dan filsafat yang dinilai gagal memenuhi janjinya untuk membebaskan manusia, tetapi sebaliknya, yang terjadi adalah penindasan.
4. munculnya kecenderungan baru untuk menemukan identitas dan apresiasi serta keterikatan rasionalisme dengan masa lalu.
5. Semakin menguatnya wilayah perkotaan (urban) sebagai pusat kebudayaan, dan wilayah pedesaan sebagai daerah pinggiran. Pola ini juga berlaku bagi menguatnya dominasi negara maju atas negara berkembang. Ibarat negara maju sebagai titik pusat yang menentukan gerak pada lingkaran pinggir
6. semakin terbukanya peluang bagi klas-klas sosial atau kelompok untuk mengemukakan pendapat secara lebih bebas. Dengan kata lain, era postmodernisme telah ikut mendorong bagi proses demokratisasi.
7. era postmodernisme juga ditandai dengan munculnya kecenderungan bagi tumbuhnya eklektisisme dan pencampuradukan dari berbagai wacana, potret serpihan-serpihan realitas, sehingga seseorang sulit untuk ditempatkan secara ketat pada kelompok budaya secara eksklusif.
8. bahasa yang digunakan dalam waacana postmodernisme seringkali mengesankan ketidakjelasan makna dan inkonsistensi sehingga apa yang disebut era postmodern sangat mengandung paradox

Sedangkan menurut Pauline Rosenau (1992) mengatakan bahwa :
1. modernism telah gagal mewujudkan perbaikan-perbaikan dramatis sebagaimana diinginkan para pedukung fanatiknya.
2. Menolak apa yang biasanya dikenal dengan pandangan dunia (word view) misalnya: metanarasi dan totalitas
3. Pemikir postmodern menggembor-gwmborkan fenomena besar seperti reflektis, perasaan, pengalaman pribadi, kebiasaan, mitos dan magis
4. Menolak kecendrungan modern yang meletakan batas-batas dalam disiplin ilmu
5. Menolak gaya diskursus akademis modern yang teliti dan bernalar. 
Kritik Terhadap Postmodern
Ulasan sederhana di atas telah menghantarkan kita untuk sedikit memahami postmodern dan ciri-cirinya. Sehingganya dari itu, sikap dan kritikan penting untuk dilontarkan. Secara umum ditemukan sisi positif, namun disisi lainnya, postmodern membawa dampak negatif yang perlu dihindari. 
Positif
– Postmodern dengan semangatnya menghargai segala perbedaan-perbedaan. nilai-nilai pluralisme dikedepankan.
– Modernisme sangat mengagungkan rasionalitas. Dimana rasio, logika dan standar ilmiah menjadi tolak ukur kebenaran, akibatnya segala sesuatu yang tidak dapat dibuktikan dengan melalui penelitian ilmiah dan berdasarkan rasio serta logika dianggap salah dan tidak digunakan. Sedangkan Postmodern menjunjung tinggi emosi, dan intusi. Kebenaran dapat diterima hanya berlandaskan pada keyakinannya bahwa itu benar.
– Modern sangat mengagung-agungkan sain dan teknologi sebagai jalan keluar, sedangkan postmodern menekankan bahwa nilai subjektifitas manusia dapat menentukan kebenaran. Misalnya: nilai-nilai estetika dan keimanan
Negatif
• Postmodernisme, sebenarnya diispirasikan oleh seorang tokoh atheism besar di dunia Nietsche. Yang dimana ia menunjukan bahwa kekuasaan ada dalam diri manusia. Ia sangat menjunjung tinggi nilai subjektifitas manusia. Baginya Allah telah tiada . Kini tinggallah manusia yang berkuasa. 
Allah sebagai patokan dasar kebenaran kini hilang dan tergantikan dengan kebenaran-kebenaran individu manusia. Akibatnya, setiap manusia memiliki kebenaranya masing-masing. Ketika setiap mansia mempunyai kebenarannya masing-masing, maka yang menjadi pertanyaan dimanakah kebenaran mutlak yang dapat mempersatukan seluruh manusia? Atau apa itu kebenaran sehingga manusia memilikinya masing-masing ?
• Postmodern, dengan pemikirannya melegitimasi lahirnya budaya-budaya animisme . Melahirkan kembali mitis-mitos kuno yang telah runtuh dalam perkembangan manusia. Hal ini terlihat jelas dan Nampak penyebarannya melalui siaran-siaran televisi. Dimana oleh karena kemajuan IPTEK, banyak manusia kehilangan identitas dirinya dan akhirnya sulit menentukan langkah hidupnya, akibatnya pencarian identitas diri melaui ilmu-ilmu gaib, ramalan-ramalan, dll 

Penutup

Postmodern adalah ketiadaan. Ketiadaan ini, awalnya diakibatkan oleh manusia modern yang dengan rasio dan logika dijadikan sebagai tolak ukur dan menggunakan landasan ilmiah berusahan untuk menemukan kebenaran dan digeneralisasi menjadi kebenaran universal. Namun kenyataannya, kita menemukan bahwa tidak ada satu ilmu pengetahuanpun di dunia ini yang bersifat pasti. Yang ada hanyalah terus mengalami pertarungan. Pertarungan inilah yang dinamakan dialetika.

Proses dialetika terus berlanjut seiring putaran waktu meniscayakan berkembangnya ilmu pengetahuan. Perkembangannya melahirkan budaya pemberhalaan terhadap ilmu pengetahuan. Pemberhalaan inilah yang bagi saya adalah bentuk pendogmatisasian ilmu pengetahuan dan pendogmatisasian inilah akhirnya berubah menjadi ideology.
Ideology, menjadi landasan/dasar pijakan dan harapan. Artinya sesuatu yang menjadi cita-cita ideal akan tercapai apabila ada sinergitas antara ide dengan tindakan yang dilandaskan pada ideology tertentu juga. 

Di Dunia ini banyak pemikir hebat. Karena banyak pemikir hebat banyak ilmu pengetahuan dan karena banyak ilmu pengetahuan maka banyak ideology, dan karena banyak ideology akibatnya terjadi pertarungan kekuasan/upaya saling menguasai diantara ideology-ideologi.
Pertarungan ideologi ini mendatangkan upaya saling mempertahankan dan menganggap paling benar diantara lainnya. Akibat dari itu, munculah banyak kebenaran, dan akibat adanya banyak kebenaran maka akhirnya kebenaran itu sendiri menjadi relative.

Ketika kebenaran menjadi relative, manusia yang pada dasarnya adalah memiliki harsat untuk terus mencari, dan selalu tidak puas, akan terus mencari. Dan pencarian-terus menerus itulah yang dinamakan POSTMODERN. Dan Postmodern adalah kegelisahan yang diakibatkan oleh hilangannya suatu standar kebenaran secara universal. Standar kebenaran universal itu adalah Allah. Tentukan Posisi mu

daftar pustaka
1. http://www.sabda.org
2. Sugiharto,I Bambang. Postmodern, tantangan bagi filsafat.1996; Yogyakarta.Kanisius 
3. Tantangan Postmodern terhadap Iman Kristen (www.heryanto.com)
4. Patanto A. Pius, Dahlan Barry M. Kamus Ilmiah Populer, Surabaya, Apola:2001)
5. http://gurut07.blogspot.com/2009
6. Wibowo Setia, dkk. Para Pembunuh Tuhan,Kamisius. Yogyakarta
7. Kuwuel K. Hipolitus, Allah dalam Dunia Postmodern, Malang, Dioma; 2003

Diposting 4th November 2012 oleh Eksi Riwu – at Rumah Pacet

View on Path

JABAR, ANGKOT LAGI ANGKOT LAGI…

Membaca berita bahwa transportasi online tidak dibolehkan di Jabar, saya entah mau sedih entah geli..

Sedih, karena ternyata ada yang tidak siap dengan perubahan zaman. Geli, karena meski zaman sudah berubah ada juga yang tidak bisa siap.

Jabar adalah provinsi yang paling dekat dengan DKI Jakarta, ibukota negara sekaligus kota metropolitan dengan segenap teknologinya. Jika ada perkembangan baru di bidang teknologi, bisa di pastikan Jakarta dululah kota yang menyerapnya.

Nah biasanya yang cepat menyerap apa-apa dari Jakarta ya Jabar.

Coba aja liat anak-anak gaulnya, dengan logat sunda yang medok mereka terbiasa ber lu gua. Belum lagi model pakaian yang “sinetron style” dan pergaulan bebas yang kadang lebih gila.

Jadi ya antara sedih dan geli melihat Jabar ternyata tidak mampu bersiap ketika teknologi dengan deras masuk ke kehidupan masyarakat, terutama pada transportasi online.

Saya pernah cerita di Cikarang Bekasi saya sampai sembunyi2 ketika mau naik gojek. Sedangkan ojek pangkalannya mukanya cemberut terus seakan ingin menguras dompet kita dengan harga jarak pendeknya.

Belum lagi angkot yang ngetemnya – naudzubillah – lamanya sampai berasa kayak pindang dalam kaleng. Sudah mepet, muter entah kemana. Dan banyaknya itu yang gak nahan, seperti setiap sudut kota ada angkotnya. Macet dan berpeluh.

Taksinya banyak yang gak mau pake argo. Asal njeplak aja harganya, mau ayo gak mau ya udah. Ah pokoknya pusing dah.

Masyarakat Jabar terutama yang diperkotaan sempat terhibur karena ada transportasi online. Bukan saja sebagai transportasi antar jemput, tapi juga bisa mengantar makanan dan barang. Perputaran ekonomi pun cepat antara penjual dan pembeli, sehingga merata.

Mendadak semua dihentikan, seperti mesin waktu yang kehabisan bahan bakar. Ada yang tidak suka perkembangan transportasi online, terutama dari pihak organda yang selama ini memonopoli ekonomi lapangan.

Sedih dan geli melihat Pemprov Jabar yang ternyata kalah wibawa. Lebih baik mengorbankan masyarakat, daripada harus berseteru dengan organda. Baru diancam mogok, sudah kelimpungan. Pemerintah yang hidup dibawah tekanan.

Mendinglah kalau satu kota saja yang melarang, ini satu provinsi mak. Mungkin ada yang berbisik, “Kalau online gak disetop, suara kami di Pilkada 2018 tidak akan kami berikan..” Wah kalau masalah suara, ini masalah hidup mati anak bini dan dua istri muda lagi.

Kasian Jabar, kembali mundur ke belakang. Kembali berpanas2 dan berlama2 menunggu angkot dan berantem dengan ojek lapangan. Sedangkan kualitas transportasi tetap begitu2 saja, bau dan banyak yang sudah tidak lain jalan.

Sedangkan nun dekat di sekitarnya, daerah2 lain memamerkan kecanggihan teknologinya, Jabar harus gigit jari sambil merasa iri hati karena harus “naik angkot lagi naik angkot lagi. Kapan majunyaaaa ?”

Yah, seperti kata Gubernur dan Wagub Jabar, pasrah dan serahkan saja semua kepada Tuhan. Mungkin ini ujian. Bedoa saja yang banyak, siapa tau Tuhan kasian…

Gimana warga Jabar ? Penak jamanku toh ??

Seruput dulu ahhhhhh… sambil nunggu pesanan go food datang.. Nyam nyam nyammm…

http://www.dennysiregar.com – at Rumah Pacet

View on Path

Arti Nama Tempat (Kampung) Di Yogyakarta

Sebagai orang yang lahir dan besar di Yogyakarta saya mau cerita sedikit tentang kekhasan Yogyakarta, bukan tentang Penetapan Gubernurnya yang dilakukan tanpa Pemilihan oleh rakyat tapi tentang nama-nama tempat di Yogyakarta yang khas (orang sekarang bilang nJogjani).

Saya mulai dari nama kampung yang bernama Suryodiningratan, letaknya persis di sebelah selatan Benteng Keraton bagian selatan, hanya berjarak beberapa ratus meter, berbatasan dengan kampung Pugeran. Nama Suryodiningratan berasal dari nama seorang kerabat keraton yang tinggal di daerah situ yaitu Pangeran Suryodiningrat. Sebagai penghormatan kepada beliau, maka masyarakat setempat menamakan kampung ini dengan nama Suryodiningratan. Nama kampung tersebut berasal dari nama Suryodiningrat diberi akhiran, “an.”yang berarti tempat. Hampir semua nama kampung di Yogyakarta berakhiran dengan suku kata, “an.” Sampai sekarang nama Suryodiningratan tersebut juga diabadikan menjadi nama jalan utama yang melintas diwilayah tersebut dan secara administratif formal dijadikan sebagai nama kelurahan.

Masih ada banyak kampung lagi yang masing-masing nama memiliki cerita yang berbeda dibalik namanya. Menamai kampung berdasarkan nama kerabat keraton yang tinggal di Yogja seperti yang saya ceritakan di atas hanyalah satu dari beberapa latar belakang penamaan suatu kampung.

Kalau di Kota Yogyakarta ini, khususnya di daerah dalam benteng (jeron beteng) dan sekitar benteng istana/Kraton Ngayogyakarto, setahu saya ada tiga dasar penentuan nama kampung.

Yang pertama, kampung tersebut dinamai berdasarkan nama kerabat istana atau pangeran yang juga tinggal di sekitar situ. Seperti yang barusan saya ceritakan tentang kampung Suryodiningratan. Lebih jelas begini, sudah merupakan suatu kelaziman kalau para pangeran atau kerabat raja yang lain di beri tanah diluar benteng keraton untuk ditinggali. Masing-masing dari mereka mendirikan semacam tempat tinggal (small palace) sendiri. Nah biasanya kemudian masyarakat atau rakyat jelata meminta izin untuk dapat tinggal di sekitar small palace itu. Biasanya juga sang pangeran itu mengijinkan dan mulai dari situlah tumbuh pemukiman warga yang terus dan terus berkembang sampai terbangun suatu komunitas masyarakat yang memiliki batas-batas wilayah. Nah, bermula dari situ kemudian mereka menamai kampung tempat mereka tinggal dengan nama Pangeran yang terkait, sebagai wujud penghormatan dan terimakasih kepda kerabat istana tersebut.

Contoh, daerah Pugeran, dulu merupakan tempat tinggal Pangeran Puger. Suryatmajan tempat tinggal Pangeran Suryaatmojo. Tejokusuman merupakan wilayahnya Pangeran Tejakusumo dan lain sebagainya….Masih ada lagi misalnya Pujokusuman, Suryodiningratan, Suryowijayan, Mangkubumen, Ngadikusuman, Panembahan dst.
FYI : Small Palace tersebut sebagian besar masih ada hingga sekarang dan biasanya masyarakat sekitar menyebutnya dengan Ndalem.

Dasar pemberian nama yang kedua adalah dari profesi orang-orang kebanyakan yang tinggal disana. Pada jaman dulu Sultan itu sering menempatkan orang-orang yang berprofesi yang sama di suatu tempat. Misalkan, para pemuka-pemuka agama keraton ditempatkan di sekitar masjid agung Mataram, maka daerah tersebut kita kenal dengan nama Kauman, yang berarti tempatnya para mbah Kaum.

Ada juga kampung Siliran, yang merupakan kampungnya para petugas lampu istana. Mungkin kalau sekarang kompleks pegawai PLN kaliii ya ,…. Kemudian ada kampung Pajeksan (tempat tinggal saya dari lahir hingga selesai kuliah) adalah kampungnya para jaksa. Ada Jagalan kampungnya par a penjagal sapi. Ada kampung Jlagran kampungnya para tukang Batu, memang jlagra dalam bahasa jawa berarti tukang batu. Ada lagi kampung Gamelan, kampung dimana para perawat kuda-kuda Raja tinggal. Kampung Patehan yang ada di Barat plengkung Gading, merupakan wilayahnya para pembuat tehnya istana. Sudah pernah dengar kampung Pesidenan? Di kampung itulah para penyanyi keraton yang bertugas menembang dalam acara-acara istana tinggal.

Itu tadi penemaan kampung berdasarkan nama kelompok-kelompok profesional. Penamaan yang ketiga adalah penamaan yang berdasarkan nama laskar atau prajurit keraton. Di kategori ini ada kampung Jogokaryan tempat Laskar Jogokaryo tinggal. Ada Daengan tempat anggota Laskar Daeng, ada juga Wirabrajan dimana dulu laskar Wirobraja menetap. Selain itu masih ada lagi Kampung Prawirotaman, Ketanggungan, Mantrijeron, dan Surakarsan. Kesemuanya itu merupakan nama kampung yang diambil dari nama –nama Laskar nya keraton yang kalo zaman sekarang mungkin dinamakan kompleks militer. Laskar-laskar itu sampai sekarang masih ada lho…. kalo pengen lihat aksi mereka, coba deh datang ke keraton kalo pas ada kirab.

Setahu saya tiga macam itulah sumber penamaan suatu kampung di Yogyakarta. Ada juga sebenarnya kategorisasi yang lain, yaitu menamakan kampung berdasar daerah asal orang yang tinggal disitu, tapi di Jogja ini setahu saya cuma ada satu, yaitu kampung Menduran, tempat orang-orang Madura tinggal. Sayangnya saya tidak tahu lagi apakah ada kampung dengan pengelompokan seperti ini yang lain.

Masih sangat mungkin ada latar belakang lain dalam pemberian nama suatu daerah, khususnya daerah yang agak jauh dari pusat keraton.

Karena itu, tidak ada salahnya yang punya informasi untuk bagi-bagi ceritanya atau ceritakanlah nama kampung bapak/ibu temans semua untuk menambah wawasan pengetahuan kita

Disadur dari berbagai sumber oleh : Maimun Ridwan Mukaris

Pemerhati Budaya Jawa – at Bakwan Istimewa Sidodadi Malang (NEW)

View on Path

Dasar hukum dan dasar operasional BUMN :
Dibentuknya BUMN didasari oleh ketentuan UUD Pasal 33 khususnya ayat (2) dan (3) yang mengandung maksud bahwa; Cabang-cabang produksi penting bagi Negara yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara. Kemudian bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Ciri BUMN :
1. Melayani kepentingan umum, selain mencari keuntungan;

2. Sebagai stabillisator perekonomian dalam rangka menyejahterakan rakyat;

3. Sebagai sumber pemasukan negara (Pusat /daerah), dll.

Sering ruginya BUMM itu dikarenakan masih adanya intervensi politik baik dari sisi pengisian personal maupun pengelolaan keuangan oleh kekuatan politik. – at Rumah Pacet

View on Path

You can’t change how people feel about you, so don’t try.
JUST LIVE YOUR LIFE AND BE HAPPY! – at Rumah Pacet

View on Path

CATATAN:
Singgular:
Alumnus untuk laki dan
Alumna untuk perempuan.
Plural:
Alumni untuk laki dan
Alumnae untuk perempuan. – at Rumah Pacet

View on Path

Nudie News

The rambling thoughts of an ambling geek/nudist.

yacatchme

The Big Dog DJ JENS aka #BapeBoy Blog !

Egregious Illustrations

My art and illustration.

Art Bacchant

drunk on the arts

Celebrity Oopies

Famous Celebrity Scenes

Truong Giang

"It's not how good you are, it's how good you want to be."

remixkat

allla ballla bellla bllla

Lebeau's le Blog

Home of the "What the Hell Happened?" Series

Erotixx

An eclectic mix of erotica.

pinupmemories

vintage pinups glamour

Her 30's

visit the official site at www.her30s.com

Michael's First Blog on the Net

One of many blogs, this one dates back the farthest

BMG Photos

A few photos I would like to show

Over My Styled Body

A personal style blog, giving fashionistas a daily dose of style one outfit at a time

Bucket List Publications

Indulge- Travel, Adventure, & New Experiences

Sagan's Asia

[私はアーティストだ。このサイトには画像が含まれて性的に18歳未満の人には適していませんではありません。あなたはこれらの材料に悩まされている場合、または不快に感じるために - ので、今、このページを残しておく必要があります]

The Neighborhood

telling the story from every vantage point

%d bloggers like this: